Ketika Mesin Berpikir, Manusia Dituntut Meragukan: Relevansi Rasionalisme Descartes di Era AI

Di tengah dunia yang dipenuhi AI, deepfake, dan informasi yang sulit dibedakan kebenarannya, gagasan René Descartes tentang “meragukan segalanya” justru menjadi kunci bertahan. Saat mesin tampak bisa berpikir, artikel ini mengajak kita kembali bertanya: apakah kita masih benar-benar berpikir sendiri, atau hanya mengikuti algoritma?

May 4, 2026 - 10:58
 0  1

OPINI    FILSAFAT & TEKNOLOGI

Ketika Mesin Berpikir, Manusia Dituntut Meragukan: Relevansi Rasionalisme Descartes di Era AI

Di tengah banjir informasi, deepfake, dan lahirnya kecerdasan buatan yang mampu menulis, menggambar, bahkan berargumen, pemikiran filsuf Prancis abad ke-17 justru kembali menemukan panggungnya.

Oleh: Fatma Yuli Darmalisa dan Tristanti |  Mahasiswa Fakultas Kimia, Universitas Pertahanan

Jakarta, 23 April 2026

JAKARTA — Sebuah foto viral di media sosial pekan lalu memperlihatkan seorang tokoh publik menyampaikan pernyataan kontroversial. Ribuan orang membagikannya, memicu perdebatan panjang. Belakangan diketahui: foto itu hasil rekayasa kecerdasan buatan. Sebuah deepfake. Ironisnya, sebagian orang yang sudah terlanjur percaya tetap menolak untuk mengubah pendiriannya.

Peristiwa semacam ini kian sering kita jumpai. Dan di sinilah pemikiran seorang filsuf yang wafat hampir empat abad lalu terasa begitu aktual: René Descartes (1596–1650).

Keraguan yang Menyelamatkan

Descartes, yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern, memulai proyek filosofisnya dengan satu keputusan radikal: meragukan segalanya. Indra sering menipu, mimpi terasa nyata, bahkan — dalam eksperimen pikirannya yang terkenal — mungkin saja ada “setan jahat” yang memanipulasi seluruh persepsi kita.

Dari keraguan total itu, ia menemukan satu kebenaran yang tak bisa diragukan lagi: fakta bahwa ia sedang meragukan. Lahirlah kalimat legendaris itu — Cogito, ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.

Empat ratus tahun kemudian, “setan jahat” Descartes seolah menjelma dalam wujud nyata: algoritma yang menciptakan gelembung informasi, gambar palsu yang dibuat AI dalam hitungan detik, dan teks yang ditulis mesin namun terdengar seolah berasal dari manusia sungguhan.

Apakah ChatGPT “Berpikir”?

Pertanyaan ini bukan sekadar permainan kata. Ketika sebuah chatbot menghasilkan esai yang koheren, menjawab pertanyaan filosofis, bahkan mengutip Descartes sendiri — apakah ia sedang berpikir?

Bagi Descartes, jawabannya jelas: tidak. Berpikir, menurut sang filsuf, bukan sekadar memproses informasi atau menghasilkan kalimat yang masuk akal. Berpikir adalah aktivitas sadar dari res cogitans — substansi yang memiliki kesadaran diri, mampu meragukan, dan menyadari bahwa ia sedang meragukan.

AI hari ini mungkin bisa menulis kalimat “Aku berpikir, maka aku ada” dengan sempurna. Tapi ia tidak mengalaminya. Ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Inilah garis pemisah Cartesian yang masih relevan untuk membedakan mana kecerdasan autentik, mana simulasi canggih.

Metode Keraguan sebagai Literasi Digital

Descartes menawarkan empat aturan berpikir: terima hanya yang jelas dan pasti, pecah masalah ke bagian-bagian kecil, susun dari yang sederhana ke kompleks, dan tinjau ulang agar tidak ada yang terlewat.

Empat aturan ini, jika dicermati, adalah blueprint literasi digital modern. Verifikasi sumber. Cek silang. Pemeriksaan fakta. Refleksi. Apa yang diajarkan Descartes di abad ke-17 kini menjadi kurikulum wajib bagi warga digital abad ke-21.

“Benar-benar belum pernah menerima sesuatu sebagai kebenaran, jika saya tidak mengetahuinya dengan jelas sebagai hal yang demikian,” tulis Descartes dalam Discours de la Méthode (1637). Kalimat itu kini terasa seperti peringatan bagi setiap kita yang hendak menekan tombol “bagikan”.

Algoritma yang Mengambil Alih Akal

Ada ironi lain yang patut direnungkan. Descartes memuliakan manusia sebagai subjek rasional yang otonom, mampu menentukan kebenaran dengan akalnya sendiri. Namun di era digital, banyak keputusan harian kita justru dipandu algoritma: apa yang kita tonton, baca, beli, bahkan siapa yang kita temui.

Kita, dalam arti tertentu, menyerahkan sebagian otonomi berpikir kepada sistem rekomendasi. Dari sudut pandang Cartesian, ini adalah kemunduran filosofis. Rasionalisme justru mengajak kita merebut kembali kendali atas proses berpikir, bukan menyerahkannya.

Pijakan di Tengah Ketidakpastian

Descartes hidup di masa transisi, dari dunia medieval yang stabil ke modernitas yang kacau. Kita pun hidup di masa transisi serupa: dari era industri ke era AI, dari otoritas tunggal ke pengetahuan terdesentralisasi. Kebutuhan akan pijakan intelektual yang kokoh tidak berkurang, justru semakin mendesak.

Pesan Descartes tetap relevan: bahkan di tengah kekacauan informasi, masih ada satu hal yang pasti, fakta bahwa kita sedang berpikir, meragukan, dan mencari. Dari titik itu, seluruh bangunan pengetahuan dapat disusun kembali.

Penutup: Berpikir di Zaman Mesin yang Berpikir

Era AI tidak membuat filsafat Descartes usang. Justru sebaliknya, era ini menuntut kita untuk lebih sering berhenti dan bertanya: apakah yang kulihat ini nyata? Apakah yang kubaca ini hasil pemikiran manusia? Apakah aku sedang berpikir sendiri, atau sedang dipikirkan oleh algoritma?

Di tengah mesin-mesin yang tampak berpikir, tugas kita sebagai manusia bukanlah menyaingi kecepatan mereka, melainkan memperdalam apa yang tidak bisa mereka lakukan: meragukan secara sadar, mempertanyakan secara autentik, dan menemukan kepastian melalui akal sendiri.

Cogito, ergo sum. Di tahun 2026, kalimat itu mungkin perlu ditambah sedikit: aku meragukan, maka aku sungguh-sungguh manusia.

* * *

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kimia Univeristas Pertahanan yang menaruh minat pada kajian filsafat hukum dan perkembangan teknologi kontemporer. Artikel ini merupakan opini pribadi penulis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0