“Masih Aku, Kan? Tentang Ingatan, Perubahan, dan Cara John Locke Melihat Diri Kita” (JOHN LOCKE VERSION)

May 12, 2026 - 10:14
 0  4
“Masih Aku, Kan? Tentang Ingatan, Perubahan,  dan Cara John Locke Melihat Diri Kita”  (JOHN LOCKE VERSION)

Pernah nggak sih kamu nemu foto lama, terus reaksinya campur aduk? Di satu sisi ketawa karena gaya rambutnya aneh, pose fotonya kaku, atau ekspresinya terlalu polos. Tapi di sisi lain, ada perasaan yang susah dijelasin: walaupun kelihatannya beda banget, kamu tetap yakin, “Iya, itu aku.”Dari momen sesederhana itu muncul pertanyaan yang ternyata cukup dalam: kenapa kita tetap merasa jadi orang yang sama, padahal banyak hal dalam hidup kita sudah berubah?Tubuh berubah, kebiasaan berubah, selera berubah, cara berpikir juga berubah. Versi diri kita waktu kecil jelas beda jauh dengan diri kita sekarang. Namun, anehnya, ada satu hal yang terasa tetap: perasaan bahwa semua versi itu masih terhubung dan masih milik orang yang sama.Pertanyaan seperti ini pernah dipikirkan serius oleh John Locke. Salah satu gagasannya yang paling terkenal adalah tentang identitas pribadi atau lebih gampangnya, tentang apa yang sebenarnya membuat seseorang tetap menjadi dirinya sendiri dari waktu ke waktu.Menurut Locke, identitas seseorang bukan terutama ditentukan oleh tubuh dan bukan juga semata-mata oleh jiwa, melainkan oleh kesadaran, khususnya kemampuan untuk mengingat pengalaman masa lalu sebagai bagian dari diri sendiri.Kalau kamu masih ingat hari pertama masuk sekolah, pernah jatuh dari sepeda, pernah malu karena salah jawab di depan kelas, atau pernah senang banget waktu pertama kali berhasil melakukan sesuatu yang sulit, menurut Locke, orang yang mengalami semua itu dan kamu yang sekarang adalah orang yang sama.

 

Alasannya sederhana: kamu masih bisa bilang, “Itu pernah kejadian sama aku.”

Di situlah inti pemikiran Locke. Identitas lahir dari kesinambungan kesadaran.

Kalau dipikir-pikir, ide ini terasa cukup masuk akal. Tubuh kita jelas terus berubah. Tinggi badan bertambah, suara berubah, wajah berubah, bahkan secara biologis sel-sel tubuh juga terus berganti. Tapi walaupun fisik berubah, kita nggak pernah benar-benar merasa menjadi orang baru setiap beberapa tahun.Bukan cuma tubuh. Cara berpikir juga berubah.Dulu mungkin kamu suka hal-hal yang sekarang bikin kamu geleng kepala sendiri. Dulu gampang tersinggung, sekarang lebih santai. Dulu takut bicara di depan orang, sekarang mungkin lebih berani. Semua berubah, tapi tetap ada rasa bahwa itu semua adalah bagian dari satu perjalanan hidup yang sama.Locke melihat hal ini sebagai kerja dari ingatan. Ingatan menghubungkan versi kita yang dulu dengan versi kita yang sekarang.Kalau diibaratkan, hidup manusia itu seperti cerita panjang. Tiap pengalaman jadi satu bab. Ada bab yang lucu, ada yang bikin malu, ada yang menyakitkan, ada juga yang membanggakan. Selama kita masih bisa menyadari bahwa bab-bab itu adalah bagian dari cerita kita sendiri, identitas kita tetap terasa utuh.Makanya, dalam kehidupan sehari-hari, teori ini sebenarnya dekat banget dengan pengalaman kita.

Misalnya, kamu masih ingat pertama kali presentasi di depan kelas dan tangan gemetar parah. Atau kamu masih ingat waktu pulang sekolah sambil deg-degan karena nilai ujian jelek. Atau mungkin kamu masih ingat pernah ngomong sesuatu yang sekarang bikin kamu menyesal.Menurut Locke, ingatan-ingatan seperti itu bukan sekadar kenangan biasa. Mereka adalah bukti bahwa diri kita sekarang masih terhubung dengan diri kita di masa lalu.Menariknya, bukan cuma kenangan manis yang menjaga identitas.Kadang justru rasa malu, penyesalan, atau rasa bersalah juga menunjukkan hal yang sama. Ketika kamu menyesali kesalahan lama, itu artinya kamu masih mengakui bahwa pengalaman itu adalah bagian dari dirimu.Di sisi lain, ingatan juga menyimpan kebanggaan.Waktu seseorang berkata, “Aku dulu pernah juara lomba,” atau “Dulu aku nggak nyangka bisa sampai di titik ini,” sebenarnya ia sedang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Identitas terbentuk dari pengakuan terhadap pengalaman-pengalaman seperti itu.Tapi di sinilah muncul pertanyaan yang bikin teori Locke jadi makin menarik.

Apakah ingatan benar-benar cukup?

Soalnya, manusia itu makhluk yang gampang lupa.Banyak bagian dari masa kecil kita yang hilang begitu saja. Kadang kita bahkan lupa alasan kenapa masuk dapur. Lupa naro kunci. Lupa naruh HP, padahal ternyata masih di tangan.

Kalau identitas bergantung pada ingatan, lalu bagaimana dengan bagian hidup yang sudah nggak kita ingat lagi? Apakah bagian itu hilang dari identitas kita?

Inilah salah satu kritik terbesar terhadap teori Locke.Ingatan manusia nggak selalu stabil. Kadang samar, kadang keliru, kadang bahkan bercampur dengan imajinasi. Dalam psikologi modern, ada juga konsep false memory—situasi ketika seseorang merasa sangat yakin pernah mengalami sesuatu, padahal kenyataannya tidak persis begitu.Kalau identitas hanya bertumpu pada ingatan, berarti identitas juga ikut jadi rapuh.Dalam kehidupan sehari-hari, kritik ini terasa sangat nyata. Misalnya, seseorang mungkin sudah lupa detail masa kecilnya, tapi pengalaman-pengalaman itu tetap membentuk cara dia bereaksi terhadap dunia. Orang yang dulu sering diremehkan mungkin tumbuh jadi pribadi yang gampang minder, walaupun dia sendiri nggak ingat semua kejadian yang bikin perasaan itu muncul.

Artinya, ada bagian dari diri kita yang tetap bekerja bahkan ketika ingatannya sudah nggak jelas lagi.

Contoh lain, pernah nggak ketemu teman lama yang sekarang berubah total? Dulu pendiam, sekarang supel. Dulu ceroboh, sekarang sangat disiplin. Dulu suka bercanda, sekarang lebih serius.Secara teori Locke, dia tetap orang yang sama karena masih punya kesinambungan kesadaran. Tapi secara spontan, kita sering bilang, “Wah, kamu beda banget sekarang.”Kalimat itu sebenarnya menarik. Kita tetap mengakui dia sebagai orang yang sama, tapi sekaligus sadar bahwa ada sesuatu yang berubah cukup besar.Di situ kelihatan bahwa identitas manusia mungkin nggak bisa dijelaskan hanya lewat ingatan. Karakter, nilai, dan kebiasaan juga punya peran besar.

Coba bayangin ada seseorang yang dulu dikenal jujur, hangat, dan peduli. Lalu beberapa tahun kemudian ia berubah drastis—jadi manipulatif, egois, dan dingin.Secara teori Locke, ia masih orang yang sama karena masih punya ingatan masa lalu.Tapi secara perasaan, banyak orang mungkin akan bilang, “Dia sekarang udah beda banget. Kayak bukan orang yang dulu.”

Kenapa bisa begitu?

Karena ternyata identitas manusia bukan cuma soal apa yang kita ingat, tapi juga nilai yang kita pegang, pilihan yang kita buat, dan cara kita bertindak.Kalau disederhanakan, identitas manusia setidaknya punya beberapa lapisan.

Pertama, ingatan, yaitu pengalaman yang masih kita sadari sebagai milik kita.

Kedua, karakter, yaitu nilai-nilai yang membentuk cara kita memandang hidup.

Ketiga, tindakan, yaitu keputusan-keputusan yang terus kita ulang sampai akhirnya membentuk kebiasaan.

Jadi pertanyaan tentang identitas bukan cuma, “Apa yang masih kuingat?” tetapi juga, “Nilai apa yang masih kupegang?” dan “Aku memilih jadi orang seperti apa?”Di zaman sekarang, pembahasan soal identitas malah terasa makin relevan karena kita hidup di era media sosial dan identitas digital.

 

 

 

Hari ini, satu orang bisa punya banyak versi diri.

Ada versi buat keluarga.
Ada versi buat teman.
Ada versi buat sekolah atau kampus.
Dan tentu saja, ada versi buat media sosial.

Di dunia digital, kita bisa memilih bagian mana dari diri kita yang mau ditampilkan. Kita bisa unggah momen terbaik, foto terbaik, pencapaian terbaik, bahkan opini yang sudah dipikirin matang-matang.Tapi hidup nyata nggak selalu serapi itu.

Kadang seseorang terlihat santai, lucu, percaya diri, dan selalu baik-baik saja di layar. Tapi di balik itu, belum tentu ceritanya sesederhana yang terlihat.Di sinilah teori Locke terasa menarik sekaligus menantang.Kalau identitas adalah kesinambungan kesadaran, maka versi digital kita juga menjadi bagian dari identitas—karena kita sadar bahwa kita yang membuat unggahan itu, memilih caption itu, dan memutuskan citra seperti apa yang ingin dilihat orang lain.

Tapi di sisi lain, media sosial juga membuka pertanyaan baru: apakah identitas digital selalu mencerminkan diri yang sebenarnya?

Belum tentu.Kadang seseorang bisa terlihat sangat berbeda di internet dibanding di kehidupan nyata. Bahkan ada yang merasa lebih berani, lebih lucu, atau lebih percaya diri saat berada di balik layar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas modern makin kompleks.Kita bukan cuma berurusan dengan ingatan masa lalu, tapi juga dengan cara kita mengelola citra diri di ruang publik digital.Di titik ini, kritik terhadap Locke jadi makin terasa. Identitas ternyata bukan cuma soal mengingat masa lalu, tetapi juga soal bagaimana kita membentuk diri di masa sekarang.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan cuma “Apakah aku masih orang yang sama?”

Melainkan juga, “Versi mana dari diriku yang paling jujur?”Kalau dipikir lebih dalam lagi, teori Locke sebenarnya membawa kita ke pertanyaan yang lebih filosofis: apakah “aku” itu sesuatu yang benar-benar tetap?Karena kalau diperhatikan, hampir semua hal dalam diri manusia berubah. Tubuh berubah. Pikiran berubah. Emosi berubah. Selera berubah. Tujuan hidup berubah.

Lalu apa sebenarnya yang tetap?

Mungkin jawabannya bukan ada pada sesuatu yang diam dan nggak bergerak.Mungkin identitas justru ada pada kemampuan kita untuk menyambungkan semua perubahan itu menjadi satu cerita yang masih terasa milik kita.Jadi, identitas bukan benda mati. Ia lebih mirip proses yang terus berjalan.Dan mungkin itulah kenapa pertanyaan “siapa aku sebenarnya?” nggak pernah benar-benar selesai dijawab.Kita terus berubah. Kadang cepat, kadang pelan.

Kadang sadar, kadang nggak sadar.Tapi selama kita masih bisa melihat masa lalu lalu berkata, “Iya, itu bagian dari perjalanan hidupku,” maka benang identitas itu masih ada.Lucunya, kita bisa lupa password yang baru diganti kemarin. Bisa lupa mau ngapain waktu masuk kamar. Bisa lupa naro barang yang barusan dipegang.Tapi di tengah semua lupa itu, kita tetap merasa, “Ya, ini tetap aku.”Mungkin memang, menjadi diri sendiri bukan soal tetap sama selamanya.

Melainkan soal tetap terhubung dengan cerita hidup kita, sambil pelan-pelan menentukan ingin jadi siapa di langkah berikutnya.

PENULIS:

1.MOHAMMAD AKBAR DZIKIRIYA AROSI (320250303012)

2.AFIFAH NOVIANA (320250303001)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 1