Nyata atau Tidak? Pandangan serta Pengertian Rasionalisme René Descartes

Pemikiran René Descartes: akal sumber pengetahuan; “aku berpikir maka aku ada” jadi dasar kebenaran.

May 12, 2026 - 14:07
May 12, 2026 - 14:30
 0  2
Nyata atau Tidak? Pandangan serta Pengertian Rasionalisme René Descartes

Oleh : Ratu Felicia Anggraeni Sekar Putri dan Jesza Raditia Putra Situmorang | Mahasiswa Program Studi Kimia, Universitas Pertahanan RI

Pernah gak sih kalian bertanya-tanya, “apakah dunia yang selama ini kita lihat adalah nyata atau hanya mimpi sekilas saat tidur di sore hari?” atau “apakah mimpi itu nyata?” Pertanyaan-pertanyaan ini ternyata pernah terpikir juga oleh salah satu filsuf asal Perancis, René Descartes. Sebelum lebih jauh, mari mengenal Descartes terlebih dahulu. René Descartes seorang filsuf dan matematikawan yang lahir pada 31 Maret 1596 di Descartes, Perancis. Ia dikenal sebagai bapak filsafat modern dengan pernyataan populernya pada abad ke -17, “cogito, ergo sum” (I think, therefore I am). Pernyataan inilah yang menjadi dasar dari teori rasionalisme yang akan dibahas.

Descartes berpendapat bahwa segala sumber dari pengetahuan berasal dari akal dan bukan dari pengalaman inderawi, Dengan metode keraguan, ia meragukan segala hal untuk menemukan kebenaran yang tak terbantahkan alias tak dapat diragukan. Menurutnya, indera tidak dapat dipercaya sepenuhnya sebab adanya ilusi optik dan fatamorgana. Mimpi yang terasa nyata menambahkan keraguan dari ketidakpastian dunia inderawi. Adanya argumentasi “setan jahat” menambah keraguan akan pengalaman inderawi.

Adanya argumentasi “setan jahat” menambah keraguan akan pengalaman inderawi. Namun, menariknya, Descartes tidak berhenti pada keraguan itu sendiri. Keraguan baginya bukanlah tujuan akhir, melainkan alat metodologis untuk mencapai suatu kebenaran yang benar-benar kokoh dan tidak dapat digoyahkan. Dalam kondisi keraguan total tersebut, Descartes menemukan satu titik pijak yang tidak mungkin diragukan: bahwa dirinya sedang berpikir. Dari sinilah lahir pernyataan legendarisnya, cogito, ergo sum, “aku berpikir, maka aku ada” (Descartes, 1996).

Pernyataan ini memiliki kedalaman filosofis yang luar biasa. Descartes menyadari bahwa sekalipun semua hal eksternal dapat diragukan dengan dunia fisik, tubuh, bahkan kebenaran matematika sekalipun dalam skenario ekstrem yaitu aktivitas berpikir itu sendiri tidak dapat disangkal. Bahkan jika ia sedang ditipu, maka tetap ada subjek yang mengalami penipuan tersebut. Dengan demikian, eksistensi manusia pertama-tama dibuktikan melalui kesadaran berpikir, bukan melalui pengalaman inderawi (Hatfield, 2018).

Dari titik ini, Descartes mulai membangun kembali bangunan pengetahuan manusia. Ia menetapkan bahwa kebenaran harus memenuhi kriteria clear and distinct ideas, yaitu ide yang jelas dan terpilah. Suatu pengetahuan dikatakan benar apabila dapat dipahami secara terang tanpa keraguan dan tidak bercampur dengan konsep yang ambigu. Prinsip ini kemudian menjadi landasan penting dalam perkembangan filsafat modern dan metode ilmiah (Copleston, 1994).

Jika kita tarik ke dalam konteks kontemporer, pemikiran Descartes menjadi semakin relevan. Di era digital saat ini, manusia hidup dalam banjir informasi yang sangat besar. Internet, media sosial, dan kecerdasan buatan telah menciptakan realitas baru di mana kebenaran sering kali sulit dibedakan dari manipulasi. Fenomena seperti deepfake, hoaks, dan misinformasi menunjukkan bahwa pengalaman inderawi yang kini dimediasi oleh teknologi (tidak selalu dapat dipercaya).

Dalam situasi ini, pendekatan rasionalisme menawarkan solusi yang kuat. Alih-alih menerima informasi secara pasif, individu dituntut untuk mengaktifkan akalnya: mempertanyakan, menganalisis, dan memverifikasi. Sikap skeptis yang diajarkan oleh Descartes menjadi sangat penting sebagai bentuk literasi kritis di era digital. Dengan kata lain, rasionalisme tidak hanya relevan secara filosofis, tetapi juga praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, konsep pengetahuan a priori dalam rasionalisme juga memainkan peran fundamental dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang tidak bergantung pada pengalaman, melainkan dapat diketahui melalui akal semata. Contohnya dapat ditemukan dalam matematika dan logika, yang menjadi fondasi bagi teknologi digital, algoritma komputer, dan kecerdasan buatan (Kant, 1998).

Dalam teknologi, algoritma bekerja berdasarkan prinsip deduksi logis atau sebuah metode yang sangat dijunjung tinggi dalam rasionalisme. Dari seperangkat aturan umum, sistem dapat menghasilkan output yang spesifik dan konsisten. Ini menunjukkan bahwa rasionalisme tidak hanya merupakan teori abstrak, tetapi juga memiliki implikasi konkret dalam inovasi teknologi modern.

Metode deduksi sendiri merupakan cara berpikir dari prinsip umum menuju kesimpulan khusus. Dalam kehidupan sehari-hari, metode ini sering digunakan, meskipun tidak selalu disadari. Misalnya, ketika seseorang mengetahui bahwa semua makanan basi dapat menyebabkan sakit perut, lalu menyimpulkan bahwa makanan tertentu yang sudah berbau tidak layak dikonsumsi. Pola berpikir seperti ini membantu manusia mengambil keputusan yang lebih rasional dan sistematis.

Namun demikian, rasionalisme tidak lepas dari kritik. Aliran empirisme, yang dipelopori oleh John Locke dan kemudian dikembangkan oleh David Hume, berpendapat bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman. Menurut mereka, akal tanpa pengalaman tidak memiliki isi. Kritik ini menunjukkan bahwa rasionalisme memiliki keterbatasan, terutama ketika dihadapkan pada realitas empiris yang kompleks (Markie, 2019).

Meskipun demikian, perdebatan antara rasionalisme dan empirisme justru memperkaya perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan. Dalam praktiknya, pendekatan modern cenderung menggabungkan kedua perspektif tersebut. Namun, kontribusi rasionalisme tetap fundamental, terutama dalam memberikan dasar kepastian dan struktur logis bagi pengetahuan.

Menariknya, pemikiran Descartes juga memiliki dimensi eksistensial yang relevan dengan kehidupan manusia modern. Di tengah tekanan sosial, krisis identitas, dan kompleksitas kehidupan, banyak individu mulai mempertanyakan keberadaan dan makna hidup mereka. Pertanyaan seperti “siapa aku?” dan “apa yang benar-benar nyata?” mencerminkan semangat filosofis yang sama dengan yang diajukan oleh Descartes berabad-abad yang lalu.

Melalui proses meragukan, manusia tidak hanya mencari kebenaran eksternal, tetapi juga menemukan kesadaran diri yang lebih dalam. Dalam konteks ini, rasionalisme tidak hanya menjadi alat epistemologis, tetapi juga sarana refleksi diri. Rasionalisme juga terlihat dalam penekanan pada kemampuan berpikir kritis dan analitis. Sistem pendidikan modern tidak lagi hanya menekankan hafalan, tetapi juga pemahaman konsep dan kemampuan berpikir logis. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Descartes masih sangat relevan dan terus memengaruhi cara manusia belajar dan memahami dunia.

Dalam sains, rasionalisme berkontribusi pada pembentukan metode ilmiah yang sistematis. Teori ilmiah tidak hanya didasarkan pada data empiris, tetapi juga harus konsisten secara logis. Tanpa kerangka rasional, data tidak dapat diinterpretasikan dengan baik. Oleh karena itu, rasionalisme menjadi salah satu pilar utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern (Kenny, 2010).

Namun, penting untuk diingat bahwa manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya rasional. Emosi, intuisi, dan pengalaman subjektif juga memainkan peran penting dalam kehidupan. Pendekatan yang paling bijak adalah mengintegrasikan rasionalitas dengan aspek kemanusiaan lainnya. Pada akhirnya, pemikiran René Descartes mengajarkan kita bahwa keraguan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang harus dimanfaatkan. Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, kemampuan untuk berpikir rasional menjadi kunci dalam menemukan kebenaran.

Maka, ketika kita kembali pada pertanyaan awal “apakah dunia ini nyata?”, mungkin tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Namun yang pasti, selama kita masih mampu berpikir, kita memiliki dasar untuk memahami dunia ini. Di situlah letak kekuatan rasionalisme: bukan hanya pada jawaban yang diberikan, tetapi pada proses berpikir yang mengantarkan kita menuju kebenaran.

SUMBER UTAMA:

Copleston, F. (1994). A History of Philosophy, Volume IV: Descartes to Leibniz. Continuum.

Descartes, R. (1996). Meditations on First Philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.

Hatfield, G. (2018). René Descartes. Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Kant, I. (1998). Critique of Pure Reason (P. Guyer & A. Wood, Trans.). Cambridge University Press.

Kenny, A. (2010). A New History of Western Philosophy. Oxford University Press.

Markie, P. (2019). Rationalism vs Empiricism. Stanford Encyclopedia of Philosophy.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0