Mengapa Kubah Putih Bisa Jadi Seni? Institutional Theory of Art dan Perdebatan Objektivisme vs Subjektivisme
Artikel ini membahas Institutional Theory of Art dari George Dickie, yaitu pandangan bahwa sesuatu disebut karya seni bukan karena bentuknya indah, tetapi karena diakui oleh institusi dunia seni seperti kurator, galeri, kritikus, dan museum. Jadi, benda biasa seperti kubah putih atau urinoir bisa dianggap seni jika diberi status sebagai objek apresiasi oleh artworld. Teori ini berbeda dengan objektivisme Plato dan Pythagoras yang menilai seni dari harmoni, proporsi, dan keindahan yang melekat pada benda. Berbeda juga dengan subjektivisme David Hume yang menganggap keindahan bergantung pada perasaan tiap individu. Dickie berada di tengah: seni ditentukan oleh pengakuan sosial, bukan sifat benda atau selera pribadi. Namun teori ini mendapat kritik. John Locke menilai status seni tidak bisa dibuktikan lewat pengalaman indrawi. Jeremy Bentham mempertanyakan manfaatnya bagi masyarakat luas, sedangkan Immanuel Kant mengkritik karena aturan institusi seni tidak bersifat universal. Kesimpulannya, teori Dickie mampu menjelaskan seni modern, tetapi belum cukup sempurna tanpa pertimbangan nilai estetika, pengalaman, dan moral.
Mengapa Kubah Putih Bisa Jadi Seni? Institutional Theory of Art dan Perdebatan Objektivisme vs Subjektivisme
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebuah kubah putih polos, atau bahkan urinoir yang dipajang di galeri, bisa disebut sebagai "karya seni" sementara benda yang persis sama di kamar mandi Anda tidak? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi telah memicu perdebatan sengit selama lebih dari setengah abad dalam dunia estetika dan filsafat seni. Di satu sisi, paham objektivisme yang diwarisi dari Plato dan Pythagoras meyakini bahwa keindahan dan nilai seni melekat secara objektif pada properti formal benda, seperti harmoni, proporsi, dan simetri matematis. Di sisi lain, paham subjektivisme David Hume menegaskan bahwa keindahan tidak berada pada benda, melainkan pada mata dan pikiran yang memandangnya. Lalu, muncullah sebuah teori radikal yang disebut Institutional Theory of Art (Teori Institusi Seni) oleh filsuf George Dickie. Teori ini menggeser fokus dari properti fisik atau subjektif ke peran institusi sosial yang disebut artworld (dunia seni). Artikel ini akan membedah teori Dickie, membandingkannya dengan objektivisme dan subjektivisme, serta mengkritiknya dari sudut pandang empiris John Locke, utilitarianisme Jeremy Bentham, dan deontologi Immanuel Kant.
Apa Itu Institutional Theory of Art?
George Dickie, seorang filsuf Amerika, mengajukan teorinya sebagai jawaban atas kegagalan definisi-definisi esensialis sebelumnya. Menurut Dickie, tidak ada properti fisik atau sensori tunggal yang dimiliki bersama oleh semua karya seni, mulai dari lukisan klasik, musik simfoni, hingga readymade seperti Fountain karya Marcel Duchamp. Oleh karena itu, definisi seni harus bersifat prosedural, bukan esensial. Dickie merumuskan dua kondisi utama agar sesuatu disebut karya seni: (1) benda itu harus berupa artefak, dan (2) benda itu harus diberi status "calon apresiasi" oleh seseorang atau sekelompok orang yang bertindak atas nama institusi artworld (dunia seni). Apa itu artworld? Ia adalah kerangka sosial yang terdiri dari seniman, kurator, kritikus, pemilik galeri, sejarawan seni, dan lembaga-lembaga seperti museum, sekolah seni, serta publikasi seni. Dengan kata lain, sebuah kubah putih bisa menjadi seni bukan karena bentuknya yang indah, melainkan karena ia ditempatkan dalam konteks galeri, dikuratori oleh seorang kurator yang diakui, dan dibicarakan oleh kritikus seni. Status itulah—bukan properti intrinsiknya—yang menjadikannya seni.
Perdebatan dengan Objektivisme Plato dan Pythagoras
Pandangan Dickie bertolak belakang secara fundamental dengan objektivisme klasik. Plato, dalam Republik, menganggap seni sebagai tiruan (mimesis) dari realitas ideal yang sempurna, sementara Pythagoras dan para pengikutnya meyakini bahwa keindahan tertinggi terletak pada proporsi numerik dan harmoni kosmis. Bagi paham ini, sebuah karya seni yang baik harus memenuhi ukuran-ukuran objektif: simetri, keseimbangan, rasio emas, dan ketertiban matematis. Jika demikian, kubah putih polos tanpa proporsi istimewa tidak akan pernah dianggap seni. Namun Dickie menunjukkan bahwa sejarah seni modern dan kontemporer—mulai dari Black Square Malevich, Fountain Duchamp, hingga instalasi minimalis—membantah klaim objektivis. Tidak ada rasio emas di dalam urinoir Duchamp, tetapi dunia seni tetap mengakuinya sebagai karya ikonik. Objektivisme gagal menjelaskan mengapa benda-benda "tidak indah" secara objektif dapat menjadi seni yang sangat dihargai.
Subjektivisme David Hume sebagai Lawan dan Rekan
Di kutub lain, subjektivisme Hume tampaknya lebih akomodatif terhadap keberagaman selera. Hume dalam Of the Standard of Taste menyatakan bahwa keindahan bukanlah kualitas benda itu sendiri, melainkan perasaan yang muncul dalam pikiran pengamat. Setiap orang memiliki selera berbeda, dan tidak ada standar universal yang rasional untuk menentukan mana yang lebih indah. Sekilas, subjektivisme cocok dengan fleksibilitas institusional Dickie: jika keindahan subjektif, maka siapa pun bisa menyebut apa pun sebagai seni. Namun Dickie justru menemukan kelemahan dalam subjektivisme murni. Jika segala klaim subjektif sama validnya, maka tidak akan ada diskriminasi antara penilaian orang awam dan penilaian kurator berpengalaman. Di sinilah artworld berperan: institusi memberikan otoritas intersubjektif. Bukan sekadar selera pribadi, melainkan konsensus yang dilembagakan. Dengan kata lain, Dickie tidak menolak subjektivisme sepenuhnya; ia hanya "menginstitusionalisasikan" subjektivitas itu.
Kritik Empiris dari John Locke
Dari perspektif empirisme John Locke, yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi (tabula rasa), teori Dickie menghadapi masalah serius. Locke akan bertanya: "Pengalaman indrawi apa yang memungkinkan seseorang menangkap 'status kelembagaan'?" Tidak seperti warna, bentuk, atau tekstur, status sebagai calon apresiasi tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba. Status itu adalah konstruksi sosial yang tidak kasatmata. Dengan demikian, menurut standar empiris Locke, status tersebut bukanlah kualitas primer maupun sekunder dari benda. Hal ini menyebabkan teori Dickie terjerumus ke dalam idealisme atau konvensionalisme yang tidak dapat diverifikasi secara indrawi. Namun, penganut Dickie bisa berkilah bahwa institusi itu sendiri dapat diamati secara empiris melalui perilaku: kita melihat orang memajang benda di galeri, menulis artikel tentangnya, membelinya dengan harga tinggi, dan seterusnya. Jadi, meskipun status itu abstrak, manifestasinya empiris.
Utilitarianisme Bentham vs Deontologi Kant dalam Institusi Seni
Jeremy Bentham, pencetus utilitarianisme, akan menilai kebijakan institusi seni berdasarkan konsekuensi: apakah pemberian status seni kepada suatu benda menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar? Jika ya, maka tindakan itu etis; jika tidak, maka tidak etis. Dalam praktik, artworld sering menetapkan karya-karya kontroversial yang justru membuat banyak orang tidak senang, bingung, atau marah. Dari sudut pandang Bentham, penetapan status seni untuk Fountain mungkin tidak dapat dibenarkan secara moral karena lebih banyak orang awam yang merasa dipaksa menerima sesuatu yang absurd. Sebaliknya, Immanuel Kant dengan deontologinya akan fokus pada aturan dan kewajiban. Bagi Kant, tindakan moral harus dilakukan berdasarkan maksim yang dapat diuniversalkan dan penghormatan terhadap hukum moral. Dickie sendiri mengakui bahwa teorinya bersifat deontologis dalam arti prosedural: artworld mengikuti aturan-aturan (konstitusi tidak tertulis) dalam menetapkan status seni. Namun Kant akan mengkritik bahwa aturan institusi seni bukanlah hukum moral universal yang mengikat semua rasionalitas. Aturan itu artifisial dan semena-mena. Lebih jauh, sintesis Kant antara rasionalisme dan empirisme—yang menghasilkan konsep skematisme dan putusan reflektif estetis—tidak sepenuhnya diakomodasi oleh Dickie. Kant percaya bahwa putusan "ini indah" memang subjektif tetapi mengklaim universalitas tanpa konsep. Dickie justru membuang klaim universalitas itu dan menggantinya dengan otoritas institusional.
Kesimpulan: Apakah Institusi Cukup?
Teori Institusi Seni George Dickie berhasil menjawab teka-teki seni kontemporer yang tidak dapat dijelaskan oleh objektivisme Plato dan Pythagoras serta subjektivisme Hume. Ia menunjukkan bahwa status artistik tidak ditentukan oleh keindahan objektif atau selera subjektif semata, melainkan oleh pengakuan dari artworld. Namun teori ini lemah terhadap kritik empiris ala Locke (status tidak tampak secara indrawi) dan kritik etis ala Bentham (mengabaikan kebahagiaan mayoritas) serta Kant (kekurangan universalitas moral). Dengan demikian, meskipun teori institusi sangat berpengaruh, ia tetap harus dilengkapi dengan pertimbangan lain. Kembali ke pertanyaan awal: mengapa kubah putih bisa jadi seni? Jawaban Dickie adalah: karena kurator dan kritikus menyepakatinya. Namun sebagai penikmat seni yang kritis, kita berhak bertanya lebih jauh: apakah kesepakatan itu cukup?
Files
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0